Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

27 February 2019

Babat Tanaman Sayuran, Petani: Bukan Harga Murah Tapi Terlewat Umur Panen

Babat Tanaman Sayuran, Petani: Bukan Harga Murah Tapi Terlewat Umur Panen

Pilarpertanian - Pilar – Perlu diketahui, harga sayuran seperti bayam, kubis, kangkung saat ini relatif stabil. Petani yang biasa menanam sayuran daun telah memperhitungkan harga ketika dia memanen hasil usahanya. Petani menghitung besaran biaya yang dikeluarkan sehingga jarang ditemui petani yang mau mengalami kerugian berulang atau beruntun.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Mengklarifikasi pemberitaan beberapa hari lalu terkait petani sayuran di Batam membabat tanaman bayam didorong kekesalan kepada pemerintah, ternyata tidak benar. Yusuf yang merupakan petani membabat sayuran menegaskan hal itu terjadi akibat melimpahnya ketersediaan sayuran dari daerah lain seperti Bintan sehingga harga sayuran di Batam menjadi murah.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Tidak benar itu. Bukan saya yang mengeluarkan pernyataan itu tetapi media. Saya tidak pernah bermaksud mendemo pemerintah, namun lebih meminta pemerintah agar berperan dalam pengaturan pasokan sayuran yang masuk ke Batam,” kata Yusuf di Jalan Trans Barelang, Sijantung, Kota Batam, Rabu (27/2).
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Yusuf adalah salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki. Saat itu dirinya tidak sempat memanen tanaman bayamnya tepat waktu dan lewat masa seharusnya. Seharusnya tanaman bayam saya dipanen pada hari selasa minggu lalu namun karena tidak sempat, ia memanennya baru pada hari minggu dengan kondisi tanaman sudah lewat masa panen.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Memang kemarin ada teman yang mengambil foto saya ketika membabat tanaman bayam, saya tidak tahu bahwa foto tersebut digunakan untuk membuat berita, keesokan harinya banyak wartawan yang mendatangi saya,” ujarnya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Biasanya, bayam dipanen pada umur 21 hari setelah tanam. Apabila lewat dari waktu tersebut menyebabkan sayuran bayam sudah tidak layak dipanen karena batangnya sudah mengeras dan tidak laku di pasaran. Panen lahan seluas lima bidang ini dibabat dengan pertimbangan lebih murah dan praktis.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Bila dipanen dengan cara biasa, upah tenaga kerja lebih mahal dibanding harga jual bayam Rp 1.200 per kg. Saya akan menggunakan hasil ini untuk bahan pupuk dan pakan ternak dan mempersilahkan teman petani mengambil bayam. Saya akan menggunakan lahan ini untuk komoditas lain,” jelasnya Yusuf.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun saat meninjau beberapa petani di Kecamatan Galang, Batam, berpesan agar petani mengatur kalender tanaman dengan baik. Jadi ketika panen tidak dalam waktu bersamaan untuk mendapatkan harga yang menguntungkan.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Saya juga berharap Dinas Pertanian mendampingi petani dalam menyusun kalender tanam,” kata Nurdin.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Turut menemani, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Riau Ahmad Izhar mengatakan pihaknya telah memberikan informasi harga kepada petani. Juga mengajarkan petani untuk mengatur waktu tanamnya melalui kalender tanam dengan memperhatikan kebutuhan sayuran di Batam.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Kondisi yang dialami Yusuf dikarenakan bayamnya sudah lewat masa panen sehingga dimanfaatkan olehnya untuk pakan ternak,” ucao Izhar.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Beliau tidak bermaksud menjadikan ini sebagai bentuk demo kepada pemerintah. Hanya saja ada pihak lain yang memanfaatkanya. Hal-hal tersebut telah kami klarifikasi langsung kepada Pak Yusuf,” sambungnyam
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Kepala Sub Direktorat Sayuran Daun dan Jamue, Direktorat Jenderal Hortikuktura, Kementan, Indra Husni menjelaskan biasanya tanaman sayuran yang tidak dipanen atau sisa panen dan tanaman yang sudah tidak layak panen karena umur panen yang terlewat dapat dianggap sebagai gulma.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Sebaiknya petani menerapkan pola tanam bergilir dalam menggunakan lahan berdasarkan komoditas dengan pertimbangan ekonomi yang menguntungkan,” terangnya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Kementan, Moh Ismail Wahab meminta petani untuk lebih bijak. Usahakan jangan mau dijadikan bahan berita yang mengundang kontroversi dan dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengambil keuntungan.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Kasus ini memberi gambaran kepada kita bahwa petani sudah mempertimbangkan segala tindakannya baik dari sisi ekonomi maupun manfaat lain dan berusaha untuk menekan kerugian yang mungkin dialami,” tegasnya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Namun ada pihak lain yang memanfaatkan kondisi ini sebagai berita untuk kita harus mengecek betul kebenaran suatu berita dan menempatkannya pada konteks yang benar,” pinta Ismail. (bs)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *