Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

21 May 2018

Jambi Kini Punya Jeruk Siam, Introduksi Teknologi dari Balitbangtan

Jambi Kini Punya Jeruk Siam, Introduksi Teknologi dari Balitbangtan

Pilarpertanian - Pilar – Di bulan puasa seperti ini , konsumsi jeruk cukup meningkat karena segarnya sari buah jeruk membasahi kerongkongan untuk menghilangkan dahaga saat berbuka puasa.  Jeruk Indonesia yang berkembang selama ini adalah jeruk siam/keprok dan jeruk besar dengan lokasi sentra yang berbeda. Tapi, umumnya kita mengenal jeruk siam dari Sumatera Utara, Jawa timur dan Kalimantan Barat. Sekarang provinsi Jambi juga memiliki Jeruk Siam. Uniknya jeruk ini berkembang di lahan gambut. Peta pengembangan komoditas dari Kementerian Pertanian, wilayah pengembangan komoditi jeruk sebagian besar memang dikembangkan di luar Jawa. Bahkan luas panen jeruk di luar Jawa menunjukkan pola perkembangan meningkat. Kontribusi luas panen jeruk di luar Jawa saat ini  sebesar 68,57% terhadap total luas panen jeruk di Indonesia. Jambi sendiri tahun 2016 memiliki luas panen Jeruk Siam sekitar 389 ha. Daerah penghasil jeruk adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.  Varietas yang ditanam adalah Siam Banjar, Trigas dan Borneo Prima.  Namun, kendala utama di tingkat petani adalah penerapan teknologi yang belum optimal dan kebiasaan panen muda,  sehingga harga jual rendah. Untuk itu tahun 2018  dilakukan pendampingan teknologi dalam bentuk demplot seluas 1 Ha oleh BPTP Jambi. Kegiatan ini sejalan dengan  Pengembangan Kawasan  Hortikultura, di Kecamatan Betara, Tanjung Jabung Barat. Awal Ramadhan ini, tim peneliti turun lapang untuk melakukan pendampingan teknologi. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa di lokasi kegiatan, lahan bersifat sangat masam dengan pH 3,8, sehingga tidak optimal bagi tanaman jeruk yang membutuhkan pH 6. Oleh sebab itu, menurut Hendri Purnama selaku Penanggung Jawab Pendampingan perlu aplikasi kapur  untuk menaikkan pH tanah agar optimal pertumbuhannya. Ameliorasi lahan melalui pemberian kapur dan pemupukan merupakan bagian dari teknologi spesifik lokasi yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem. “Pemupukan menggunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia sesuai hasil analisis tanah, dilakukan 4 minggu setelah pemberian kapur.,” jelasnya. Teknologi lain yang  diterapkan adalah pemangkasan terhadap cabang-cabang non produktif dan tunas air, peningkatan sanitasi kebun melalui penyiangan gulma, pembersihan saluran drainase dan pengendalian OPT.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Penerapan teknologi  yang optimal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas jeruk hasil sentra produksi Kecamatan Betara, Kab. Tanjung Jabung Barat-Jambi.(SP)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *