Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

01 May 2020

Pemda Morotai Dukung ‘Korporasi’ Kopra Petani

Pemda Morotai Dukung ‘Korporasi’ Kopra Petani
Foto : Kopra Petani Dapat Perhatian Khusus oleh Pemkab Morotai

Pilarpertanian - Pilar Pertanian – Pemerintah Kabupaten Morotai memberi perhatian khusus pada pemasaran dan penjualan kopra petani, namun dukungan tersebut kerap terbentur kelindan rantai pasok yang dikuasai tengkulak dan pedagang dari luar Provinsi Maluku Utara.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Perhatian pemerintah pusat di Jakarta, khususnya Kementerian Pertanian RI diharapkan mendukung potensi perdagangan interinsuler dan membuka peluang ekspor. Peluang tersebut selaras dengan kebijakan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menggagas Program Gerakan Tiga Kali Ekspor (GratiEks).
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Sebagaimana diketahui Morotai, pada pergolakan Perang Dunia II menjadi pusat kekuatan militer Sekutu melawan Jepang di Samudera Pasifik. Morotai tumpuan ofensif Panglima Militer Pasifik AS, Jenderal McArthur merangsek basis militer Jepang di Okinawa melalui Pulau Iwojima. Setelah Kemerdekaan RI, Morotai merupakan kabupaten terpencil di Indonesia Timur yang kaya potensi pertanian.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Penyuluh pusat Kementerian Pertanian RI, Lilik Winarti, selaku pendamping penyuluhan pertanian Provinsi Maluku Utara mengungkap tentang potensi luar biasa dari subsektor perkebunan di Morotai, khususnya kopra. Potensi luas kebun kelapa sekitar 12.780 hektare yang menjadi sandaran hidup 7.918 petani kopra di Morotai.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Hasil produksi kelapa dikeringkan oleh petani dengan cara diasapi menjadi kopra lalu dijual kepada pengepul, kemudian dipasarkan kepada pedagang besar untuk dikirim ke Manado,” kata Lilik Winarti.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Menurutnya, pengiriman ke Manado rutin dilakukan tiga bulan sekali, setelah terkumpul 700 ton. Pemasaran langsung ke Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara dimulai sejak 2010, sebelumnya hanya dijual ke Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Harga jual kopra di tingkat petani berkisar Rp 2.000 hingga Rp 9.000 per kg. Sistem pembayaran dengan transaksi tunai oleh pengepul kepada petani, sementara transaksi petani dengan pedagang besar kerap terikat sistem ijon. Maksudnya, petani akan mengajukan pinjaman tunai kepada pedagang, Kemudian petani akan membayar utangnya dari hasil penjualan kopra kepada pedagang pemberi pinjaman.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Saat ini Pemkab Morotai menaruh perhatian besar pada pengelolaan kopra dari hulu ke hilir, dengan cara memantau dan menjaga stabilitas harga termasuk. Pemkab juga mendorong para petani kopra untuk menjual kopra secara berkelompok, karena selama ini dijual langsung kepada pengepul secara individu,” kata Lilik Winarti.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Potensi lahan, kesuburan tanah, kinerja petani dan produktivitas hasil kopra tentunya membuka peluang bagi petani mendapatkan keuntungan lebih besar untuk kesejahteraan keluarga petani, yang selama ini terbelenggu kelindan rantai pasok. (OIR)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *