Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

15 July 2018

Pupuk Lambat Urai Tingkatkan Produksi dan Cegah Pencemaran

Pupuk Lambat Urai Tingkatkan Produksi dan Cegah Pencemaran

Pilarpertanian - Pilar – Pupuk Lambat Urai (PLU) adalah salah satu inovasi unggulan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) – Badan Litbang Pertanian yang dipamerkan di stand gelar teknologi pada acara “Aksi Peduli Lingkungan Pertanian”, di Kab. Pati Jawa Tengah 2-6 Juli lalu. Beberapa pengunjung pada stand gelar teknologi tersebut tertarik dengan inovasi ini. Mereka bertanya soal apa itu pupuk lambat urai, cara penggunaannya, serta ketersediaan di pasar. Peneliti Balingtan, Miranti Ariani, SP, M.Si mengungkapkan bahwa pupuk yang diformulasi menjadi pupuk lambat urai adalah pupuk urea. Pupuk tersebut diselimuti dengan bahan penghambat nitrifikasi alami yang berasal dari gulma Babandotan (Ageratum conizoides). “Pengembangan PLU bertujuan agar nitrogen (N) yang berada dalam pupuk terurai ke tanah secara perlahan-lahan. Sehingga pada saat tanaman membutuhkan, pupuk nitrogen masih tersedia di tanah, tidak hilang terbawa air atau udara, maupun mencemari lahan”, ungkap Miranti. Hasil penelitian Miranti, dkk menunjukkan, melalui pemanfaatan PLU serapan N oleh tanaman meningkat, dibarengi dengan produksi yang juga meningkat, di sisi lain kehilangan pupuk N dapat dihambat. Hasil penelitian di kebun percobaan Balingtan pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan pupuk lambat urai mampu meningkatkan hasil jagung sebesar 17% dibandingkan dengan pupuk urea biasa, meningkatkan efisiensi penggunan N hingga 16%, serta mampu menekan emisi dinitrogen oksida (N2O) sebesar 25%. Dengan demikian penggunaan pupuk lambat urai (PLU) atau slow release fertilizer menjadi salah satu komponen penting dalam praktek pertanian ramah lingkungan. Pada kesempatan terpisah Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M. Agr. menekankan perlunya terus mendorong praktek-praktek pertanian ramah lingkungan melalui berbagai inovasi. Pertanian ramah lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan melakukan pengurangan penggunaan pupuk an-organik, pemanfaatan bahan-bahan alami sebagai pupuk maupun pestisida alami, dan pemanfaatan limbah pertanian yang tersedia di lapangan. Dedi juga mengajak masyarakat untuk terlibat memelihara tanah dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan, agar tanah tetap sehat dan menghasilkan pangan yang sehat. “Tanah yang sehat menghasilkan manusia yang sehat, manusia yang sehat akan menghasilkan bangsa yang hebat,” ungkap Dedi. PLU masih dalam tahap penelitian lapang, formulasi dan pengemasannya akan terus disempurnakan, dengan harapan produk ini dapat cepat tersedia di pasaran. (HLS/SB)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *