Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

15 January 2020

Semarak Tanam Bawang Merah di Pati, Kementan Pastikan Pasokan Aman

Semarak Tanam Bawang Merah di Pati, Kementan Pastikan Pasokan Aman
Foto: Lahan Sawah Pertanian Bawang Merah

Pilarpertanian - Pilar Pertanian – Kabupaten Pati terletak di Pantura (Pantai Utara) Jawa Tengah, didominasi dengan komoditas pertanian padi dan bawang merah. Kabupaten yang dikenal dengan motto Bumi Mina Tani ini mampu menanam bawang merah 2-3 kali setahun. Tak ayal Kabupaten ini mampu swasembada bawang merah bahkan rutin mensupply daerah lain di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Produksi bawang merah Pati menyumbang sedikitnya 1,8% terhadap produksi dan luas tambah tanam (LTT) nasional.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) harus mampu menyediakan bahan pangan termasuk cabai dan bawang merah, bagi rakyat Indonesia.Guna memastikan pasokan bawang merah dan cabai, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan menerjunkan tim monev lapang ke Pati, Jumat (11/1).
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Efendi, menyebutkan pertanaman terbesar terdapat di Kecamatan Wedarijaksa dan Jaken dengan jumlah pertanaman (standing crop) mencapai seribuan hektare.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Pertanaman bawang merah di kedua sentra besar ini benar tidak berhenti. Panen lalu tanam lagi, sehingga di lapangan lengkap mulai dari yang baru tanam sampai ke siap panen,” terang Effendi.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Sebagai kepala dinas baru, Effendi cukup bersemangat mengembangkan komoditas eksotik selain bawang merah di wilayahnya. Di sini juga punya potensi durian, mungkin pusat (Kementan) bisa juga mengalokasikan bantuan benih komoditas yang punya nilai ekonomis tinggi di sini,” harap Kadis, mantan penyuluh pertanian ini.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Menurut Effendi, kebutuhan pasar lokal Pati hanya 8 ribuan ton per tahun, sedangkan produksi mencapai 48 ribu ton atau terdapat surplus 30 ribu ton per tahunnya. “Dengan produksi yang cukup besar, Pati mampu menopang kebutuhan pasar Jabodetabek melalui pasokan rutin ke Pasar Induk Kramat Jati dan Cibitung tiap harinya,” ujarnya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Harga bawang merah di petani saat ini cenderung stabil. Warsito, Ketua Poktan Gangsar Tani, Desa Ngurenrejo menjual hasil bawangnya dengan harga 15 ribu rogolan kering 2-3 hari. Dengan biaya produksi yang mencapai Rp. 12-13 ribu per kilo dan provitas mencapai 12 ton per hektare, maka petani mampu meraup untung sekitar 20 juta rupiah per hektare.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Petani Pati rata-rata mengupayakan varietas Tajuk asal Nganjuk yang cukup tahan saat musim hujan dan relatif tahan hama. Warsito mengharapkan adanya dukungan permodalan yang mudah diakses oleh petani bawang Pati. “Kami berharap kemudahan dalam permodalan. Di musim hujan biaya produksi cukup tinggi, kita perlu modal sampai dengan akhir Maret ini,” ujar Warsito yang diamini oleh anggota kelompoknya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Tim monev Kementan dalam kesempatan tersebut, kembali mensosialisasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki plafon sampai dengan 50 juta rupiah tanpa jaminan dan NPWP. Hanya perlu KTP dan syarat administratif ringan lainnya untuk dapat mengakses permodalan tersebut. Menteri Pertanian mengharapkan KUR Hortikultura dapat terserap sebesar 6 triliun di tahun 2020.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Petani sentra akan dimudahkan dengan adanya kredit usaha ramah petani ini dengan bunga 6% per tahun. Sebagian besar petani antusias dengan adanya KUR tersebut dan berharap dapat sesegera mungkin diakses oleh petani bawang merah Pati.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Pedagang besar, bang Kimbo, yang sudah terjun lebih dari 27 tahun dalam dunia bawang mengakui saat ini lebih banyak mengambil bawang merah dari Purwodadi. Hal ini dikarenakan bawang merah Purwodadi lebih kering dan tersedia ukuran tanggung besar sampai super yang banyak diinginkan oleh pasar Jakarta.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Saat ini saya jual Rp. 21 ribu untuk kualitas super, Rp. 18 ribu untuk tanggung besar dan 15 ribu untuk tanggung kecil. Bahkan ukuran kecil dan rusak pun masih bisa dijual dengan harga Rp. 3 ribu untuk dijadikan bumbu masak,” ujar pria 47 tahun ini. Selain pasar Jakarta, Kimbo kerap mendapat pesanan untuk kirim ke Kalimantan dan Jambi.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Pemantauan harga bawang merah di Pasar Porda Juwana menunjukkan harga bawang merah stabil di angka Rp. 18 ribu untuk ukuran tanggung. Sedangkan untuk ukuran super dijual Rp. 24-25 ribu. Ukuran besar dijual Rp. 22 ribu di pasar lokal. Sedangkan cabai rawit masih diambil dari Lumajang dan Jember dengan harga Rp. 26 ribu, rawit hijau Rp. 31 ribu dan cabai merah keriting cukup melonjak harganya yaitu Rp. 42-45 ribu per kilonya.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman, yang dihubungi via telfon menyampaikan, bahwa pemerintah akan terus memantau produksi, bahkan distribusi kedua bahan pokok ini sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang berarti di masyarakat.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
“Untuk harga cabai khususnya TW dan keriting merah memang diakui terus naik. Namun jika melihat dari angka produksi sentra utama cabai merah masih surplus di bulan Januari sampai dengan Maret ke depan. Kendala utamanya saat ini yaitu musim hujan yang cukup ekstrim kerap menghambat proses panen dan naiknya harga trandpoilt saat ini,” terang Karman panggilan akrab beliau.
Baca Selengkapnya di Pilarpertanian.com
Masuk bulan Februari, harga akan berangsur turun seiring dengan adanya panen raya cabai di Jawa Timur. “Masyarakat tidak perlu kuatir karena kami (pemerintah) menjamin pasokan bawang merah dan cabai tetap stabil di tengah musim penghujan ini,” tutupnya. (OIR)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *