Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

15 October 2020

Teknologi Produksi TSS Atasi Masalah Perbenihan Bawang Merah

Teknologi Produksi TSS Atasi Masalah Perbenihan Bawang Merah
Foto : Budi Daya Bawang Merah Menggunakan True Shallot Seeds (TSS) Lebih Efektif dan Efisien.

Pilarpertanian - Pada umumnya, budi daya bawang merah menggunakan umbi sebagai benihnya. Penggunaan benih umbi membutuhkan jumlah umbi yang banyak, biaya distribusi yang tinggi dan masa simpan terbatas. Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan teknologi perbanyakan bawang merah menggunakan biji atau true shallot seeds (TSS) yang lebih efektif dan efisien.

Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry melalui sambungan telepon mengatakan bahwa Pengembangan teknik produksi TSS lebih diarahkan ke agroekosistem lahan kering di dataran tinggi. “Dataran tinggi (suhu 16-18 oC) merupakan lokasi yang sesuai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah, oleh karena itu, TSS sebagai sumber benih akan lebih optimal jika diproduksi di dataran tinggi”, urainya.

Fadjry menambahkan bahwa tantangan saat ini adalah bagaimana mendorong petani untuk menggunakan benih TSS.

“Masih banyak petani yang lebih senang menggunakan umbi sebagai bahan tanam atau sumber benih karena dianggap lebih mudah dan cepat. Padahal dengan metode TSS walaupun waktunya lebih lama (kurang lebih 3 pekan dari metode umbi) namun produksinya cukup tinggi sehingga pasti lebih efisien dan menguntungkan”, ujarnya.

“Balitbangtan melalui Unit kerja terkait dibawahnya, seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) akan terus mendampingi dan mendorong petani bawang merah untuk beralih menggunakan biji TSS, salah satunya dengan melakukan demplot-demplot percontohan, sehingga petani bisa mengambil pelajaran dari situ”, terangnya lebih lanjut.

Peneliti BPTP Jawa Timur (Jatim), Paulina Evy mengatakan ketersediaan umbi bermutu sepanjang tahun masih merupakan kendala. Umbi sebagai benih tidak bisa disimpan terlalu lama, hanya sekitar 2,5-3 bulan. Dari nisbah perbanyakannya, 1 umbi yang ditanam paling banyak hanya menghasilkan 10 umbi untuk generasi berikutnya.

“Belum lagi pengangkutan karena untuk menanam bawang merah 1 hektare membutuhkan umbi benih sebanyak 1,2 ton – 2 ton. Bisa kita bayangkan kalau umbi ini harus diangkut dari satu provinsi ke provinsi lain, tentunya memerlukan biaya pengangkutan yang mahal,” kata Evy dalam Bimtek Online Series yang digelar oleh BPTP Jatim pada Rabu (14/10/2020).

Saat ini, Balitbangtan melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telah memiliki komponen teknologi produksi TSS atau biji botani sebagai alternatif yang potensial untuk memecahkan masalah perbenihan bawang. Penggunaan TSS, terang Evy, lebih efisien karena ukurannya hanya sekitar 0,05 gram sehingga kebutuhan benih untuk 1 hektare sekitar 3-7 kg. Hal ini akan memudahkan pengangkutan dari satu kota ke kota lain.

Penyediaan benihnya juga bisa dilakukan secara massal karena nisbah perbanyakan benih tinggi, dari 1 umbi menghasilkan 200-300 biji. Selain itu, masa simpan TSS terbilang lama, lebih dari 1 tahun.

Pada penggunaan benih umbi bisa terjadi akumulasi patogen yang semakin lama semakin banyak. Sedangkan dengan biji, siklus patogen ini bisa diputus. “Memang ada kemungkinan off type dari biji yang dihasilkan, tapi bisa kita atasi dengan pemasangan barrier atau mengatur jarak tanam dari satu lokasi ke lokasi lain,” terang Evy.

Penanaman bawang merah untuk menghasilkan TSS memerlukan lokasi tertentu yaitu di ketinggian 900-1.200 m dpl. Hal ini karena pembungaan bawang merah membutuhkan suhu lingkungan yang dingin sekitar suhu 7-12 derajat celcius untuk menginduksi pembungaan dan suhu 12-18 derajat celcius untuk meningkatkan ukuran bunga (umbel) dan mempercepat mekar bunga.

“Jangan lupa di ketinggian tersebut harus cukup tersedia air mulai dari saat tanam, pembungaan, sampai dengan pengisian biji,” terangnya.

Langkah pertama untuk menghasilkan TSS adalah memilih varietas bawang merah. Selain memilih varietas yang disukai konsumen, varietas ini harus menghasilkan bunga yang banyak. Untuk bisa disertifikasi sesuai dengan Kepmentan No. 131 tahun 2015, persyaratan utama adalah varietas-varietas tersebut sudah dilepas oleh instansi pemerintah atau swasta.

Menurut Evy, di Jawa Timur terdapat beberapa varietas bawang merah seperti Biru Lancor, Batu Ijo, Bauji, Super Philip, Sumenep, dan Rubaru. Namun, varietas untuk menghasilkan TSS yang sudah dikaji BPTP Jatim adalah Biru Lancor dan Batu Ijo.

Tahapan penting selanjutnya adalah vernalisasi yaitu penyimpanan umbi benih di ruang pendingin pada suhu 10 derajat celcius selama 4 minggu. Umur umbi yang disimpan dalam cold storage sebaiknya berumur sekitar 2 bulan. Setelah itu, dilakukan proses sortasi dengan memilih umbi bobotnya lebih dari 7 gram.

Perlakuan vernalisasi berfungsi untuk mempercepat munculnya bunga. Secara normal, bawang merah membentuk bunga pada umur 2-2,5 bulan. Perlakuan vernalisasi akan mempercepat pembentukan bunga yaitu 2 atau 3 minggu setelah tanam calon bunga sudah muncul.

Saat umbi disimpan dalam cool storage, bedengan sudah disiapkan. Waktu tanam sampai akhir panen adalah 5 bulan. Pemanenan pertama dilakukan pada umur 110 hari setelah tanam (hst) dan dilakukan 5-6 kali panen dengan interval 4-7 hari tergantung cuaca. Pemanenan biji sampai umur 140-150 hst.

“Waktu panen yang tepat dapat menentukan mutu TSS. Panen TSS yang masih muda dapat menghasilkan mutu biji yang rendah viabilitasnya,” terangnya.

Pengeringan umbel kapsul dilakukan secara manual dengan menjemur selama 7-14 hari. Selanjutnya dilakukan pengupasan kapsul dan pembersihan dari kotoran. Biji bernas diseleksi dari biji hampa dan dikemas menggunakan aluminium foil setelah diuji persyaratan teknis minimal (PTM) sebelum disimpan di kulkas atau gudang penyimpanan benih.(ND)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *