Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan, PVTPP Dampingi Pengembangan PM-AAS di Sukabumi, Produktivitas Padi Capai 11,2 Ton per Hektare
Pilarpertanian - Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP), Kementerian Pertanian, terus mendorong penguatan produksi pangan melalui pendampingan kegiatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan pengembangan teknologi budidaya padi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Upaya ini menunjukkan hasil awal yang menjanjikan melalui panen perdana penerapan Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran.
Pada panen perdana di lahan demonstrasi seluas 2.800 meter persegi, pengukuran produktivitas menggunakan metode ubinan oleh mitra Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hasil tertinggi setara 11,2 ton per hektare. Sementara itu, rata-rata dari dua sampel pengukuran mencapai 10,72 ton per hektare.
Capaian tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan produksi padi, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño yang berkepanjangan.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Pusat PVTPP, Indirawati Sintya Dewi, menegaskan bahwa pendampingan kegiatan LTT merupakan bagian dari upaya mendukung percepatan peningkatan produksi pangan melalui penguatan pelaksanaan budidaya di tingkat petani.
“Bagi Pusat PVTPP, kegiatan ini tidak berhenti pada pencapaian hasil panen. Kami ingin memastikan bahwa pengembangan LTT berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas, pendampingan petani, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah. Hasil panen perdana ini menjadi modal pembelajaran untuk memperbaiki praktik budidaya dan memperkuat keberlanjutan produksi pangan di Kabupaten Sukabumi,” ujar Indirawati.
Ia menambahkan bahwa pengembangan produksi pangan perlu mempertimbangkan ketersediaan air, kesesuaian varietas, kondisi lahan, serta risiko serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Dengan demikian, upaya peningkatan luas tanam dapat memberikan hasil yang optimal dan mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan.
Pertanaman PM-AAS di Desa Mekarmukti dipanen pada umur 102 hari setelah sebar (HSS) dengan metode tanam benih langsung atau tabela. Dalam pelaksanaannya, budidaya meliputi perendaman benih, penyemaian manual, pemupukan menggunakan NPK dan urea pada umur 7, 30, dan 45 hari setelah tanam, pengendalian gulma, serta pemberian silika.
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, sejumlah aspek teknis masih memerlukan evaluasi. Pengamatan lapangan menemukan sebagian bulir padi belum terisi secara optimal. Selain itu, terdapat serangan hama penggerek batang, tikus, dan burung yang berpotensi memengaruhi hasil panen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penyusunan langkah perbaikan, mulai dari evaluasi efektivitas penggunaan drum seeder, ketepatan pemupukan, kecukupan unsur hara, pengelolaan air, hingga pengendalian OPT secara terpadu.
Di tengah kondisi kekeringan, pengaturan penggunaan air menjadi salah satu aspek penting. Penyesuaian jadwal tanam dengan ketersediaan air, pemeliharaan sarana irigasi, dan pemanfaatan sumber air secara efisien diperlukan agar pertumbuhan tanaman tetap terjaga.
PVTPP memandang bahwa hasil panen pada lahan demonstrasi ini merupakan gambaran awal potensi penerapan PM-AAS. Konsistensi produktivitas masih perlu diuji pada kondisi ketersediaan air yang berbeda dan skala lahan yang lebih luas sebelum efektivitas teknologi dapat dinilai secara menyeluruh.
Pengembangan PM-AAS di Kabupaten Sukabumi direncanakan mencakup lahan hingga 10.000 hektare. Khusus Kecamatan Waluran, calon petani dan calon lokasi (CPCL) yang telah terhimpun mencapai 174 hektare, dengan rencana pelaksanaan pada November–Desember 2026.
Bagi PVTPP, rencana pengembangan tersebut perlu diikuti dengan pemetaan kesiapan lahan, identifikasi ketersediaan air, penyesuaian jadwal tanam, serta pendampingan teknis kepada petani. Langkah ini penting agar perluasan areal tanam dapat dilaksanakan sesuai kondisi agroekosistem dan kebutuhan di lapangan.
“Perluasan LTT harus kita dukung dengan perencanaan yang matang. Kesiapan lahan, ketersediaan air, kondisi iklim, dan kemampuan petani menerapkan teknologi menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kami berharap pengalaman dari panen perdana ini dapat menjadi dasar perbaikan untuk pelaksanaan berikutnya, sehingga peningkatan luas tanam juga diikuti dengan produktivitas dan keberlanjutan hasil,” lanjut Indirawati.
Pelaksanaan panen perdana ini melibatkan petani, penyuluh pertanian wilayah UPTD VI, Dinas Pertanian, PVTPP Kementerian Pertanian, serta mitra BPS. Keterlibatan para pihak tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pendampingan, pengukuran hasil, dan evaluasi teknis kegiatan.
Aang, perwakilan kelompok tani di lokasi kegiatan, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan Kementerian Pertanian melalui PVTPP. Kelompok tani yang beranggotakan 35 orang tersebut berharap penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani di wilayah sekitar.
Melalui pendampingan kegiatan LTT, evaluasi teknologi budidaya, dan penguatan kolaborasi dengan petani serta pemangku kepentingan daerah, Pusat PVTPP berkomitmen mendukung peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Sukabumi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program swasembada pangan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kesesuaian teknologi, efisiensi sumber daya, dan ketahanan produksi menghadapi perubahan iklim. (BB)


