Melestarikan Burung Hantu, Menjauhkan Hama Tikus Murah dan Ramah Lingkungan
Foto : Burung Hantu sebagai Salah Satu Sarana Mengatasi Hama Tikus di Sawah yang Murah dan Ramah Lingkungan.

Melestarikan Burung Hantu, Menjauhkan Hama Tikus Murah dan Ramah Lingkungan

Pilarpertanian - “Koreaaak….koreaakkk…….!!!”, teriak seorang pria paruh baya malam itu di teras rumahnya. Di tatar Sunda, ada satu jenis burung yang dikenal sebagai koreak dimana burung ini aktif pada malam hari dan biasanya dianggap sebagai pertanda bahwa ada kemalangan atau wafatnya seseorang.


Ya, koreak ini biasa kita kenal sebagai salah satu jenis burung hantu dengan nama latin Tyto alba. Di sektor pertanian, burung ini sangat dekat dengan petani karena perannya sebagai salah satu predator tikus sawah. “Burung hantu Tyto alba adalah sahabat petani yang memangsa tikus. populasinya di luar sana sebetulnya cukup banyak namun masih banyak orang yang belum tahu perannya di alam dan memburu mereka hanya sekedar untuk hobi atau dijual,” ungkap Abriani Fensionita, Koordinator Substansi Pengendalian OPT Serealia (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).


Beberapa waktu yang lalu sempat beredar video tanaman jagung yang tongkolnya habis bersih dalam waktu singkat. Tongkol jagung yang siap panen rusak parah. Kelobot tongkol terbuka, biji jagungnya habis tanpa sisa. Menurut penuturan orang yang merekam kejadian tersebut, rusaknya tongkol jagung yang siap panen itu disebabkan oleh serangan tikus. Ini adalah salah satu contoh kerusakan yang disebabkan oleh hama tikus sawah pada tanaman jagung. Banyak lagi kasus serangan tikus pada tanaman pertanian yang tidak terekam oleh kamera, seperti pada tanaman padi dan komoditas lainnya.


Permasalahan tikus dapat dikelola dengan berbagai cara, diantaranya adalah penangkapan secara manual secara beramai-ramai/gropyokan, pengumpanan beracun, pengasapan, pemasangan trap barrier system (TBS) dan pemanfaatan musuh alami tikus seperti burung hantu. Di Indonesia, pengendalian hama berpedoman pada Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang mengadopsi beberapa teknik pengendalian yang sesuai dengan tahapan perkembangan hama dan tanaman. Teknik pengendalian hama tikus yang saat ini sedang populer adalah pemanfaatan burung pemangsa tikus, burung hantu.



Sebagai predator, lebih dari 90%, makanan burung T. alba ini adalah tikus. Apabila dibandingkan dengan pemangsa tikus lainnya, burung hantu memiliki beberapa kelebihan yang menyebabkan ia menjadi predator tikus paling efektif. Burung ini mampu terbang dan menangkap tikus dalam senyap, tanpa ada suara kepakan sayap karena struktur bulunya yang spesial. Selain itu ia memiliki kemampuan dapat mendengar suara tikus dari kejauhan dan dapat melihat mangsa dengan jelas di kegelapan. Dengan waktu aktivitas yang sama dengan tikus, yaitu pada malam hari maka burung hantu sangat ideal dimanfaatkan sebagai pengendali hama tikus. Lalu bagaimana caranya mengendalikan tikus dengan burung hantu?


Burung hantu secara alami tidak memiliki kemampuan membuat sarang. Karena keterbatasannya itu ia sering dijumpai tinggal di gedung yang jarang didatangi orang, seperti di gedung sekolah, kantor desa, pohon-pohon atau bangunan tua. Dengan posisi burung hantu yang jauh dari sawah itu, fungsi pengendali hama tikus dirasa kurang maksimal karena tempat tinggalnya jauh dari ladang berburunya. Oleh karenanya, maka kita perlu memindahkan burung hantu ke sawah. Bagaimana caranya? Dengan memasang rubuha.


Rumah burung hantu (rubuha) merupakan kandang buatan yang dipasang untuk burung hantu. Bentuknya bervariasi, namun sebagian besar menyerupai kandang merpati dengan sedikit modifikasi. Rubuha dipasang di persawahan atau di tepi sawah dekat dengan pepohonan. Apabila ada burung hantu liar di daerah sekitar, maka ia akan singgah di rubuha untuk istirahat, mencari mangsa atau bisa juga akan tinggal dan berkembang biak disitu. Pemasangan rubuhan adalah cara untuk mendekatkan burung hantu dengan tempatnya berburu makanan, yaitu areal pertanian/sawah. Dengan tinggal di rubuha itu, burung hantu dapat memantau dan memburu tikus di areal sawah yang pada akhirnya pengendalian alami tikus berjalan.


Sebagai binatang nokturnal, burung hantu beraktivitas pada malam hari untuk mencari makan. Jarak jelajah seekor burung hantu pada kondisi normal mencapai 5 km. Dalam radius tersebut, burung hantu terbang untuk mencari mangsanya. Berdasarkan skala jangkauan burung hantu tersebut, untuk mengamankan pertanaman seluas 5 ha dari serangan hama tikus dapat dipasang minimal 1 buah rubuha. Seekor burung hantu rata-rata memakan 1-3 ekor tikus dalam semalam, namun apabila populasi tikus tinggi ia akan memakan tikus secukupnya dan selanjutnya memburu tikus untuk dibunuh tanpa dimakan.


Burung hantu disarankan untuk mengendalikan hama tikus sawah karena menjadi investasi pengendalian jangka panjang yang murah serta terus berkembang seiring dengan waktu. Pembuatan rubuha secara swadaya dan gotong-royong dengan modal awal sekitar biaya 300 ribu rupiah dapat diperoleh satu unit rubuha sederhana, dan ia mampu turut serta dalam memberikan perlindungan sawah dari tikus dalam jangka waktu yang lama. Burung hantu liar yang tinggal di rubuha akan berkembang biak dan keturunannya menyebar di sekitarnya. Populasi burung hantu yang terus meningkat akan memberikan layanan agroekosistem berupa pengendalian hama tikus. Pemasangan rubuha setelahnya akan memberikan rumah baru bagi pasangan-pasangan burung hantu berikutnya.


Di tempat terpisah, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Mohammad Takdir Mulyadi menyatakan pemasangan Rubuha berperan penting dalam melestarikan musuh alami hama. “Pelestarian musuh alami merupakan salah satu prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan sehingga harus terus dikembangkan untuk mencegah terjadinya ledakan serangan hama”, tegas Takdir.


Dirjen Tanaman Pangan Suwandi turut menambahkan, “Sesuai harapan Bapak Menteri Pertanian, seluruh jajaran Kementerian Pertanian dari pusat sampai daerah untuk terus bersama-sama dengan petani berupaya maksimal mengamankan produksi pangan dengan menggunakan sarana pengendalian yang sesuai dengan prinsip PHT dan ramah lingkungan,” ujarnya.


Pemasangan rubuha merupakan salah satu upaya melestarikan burung hantu yang populasinya semakin menurun dikarenakan kondisi agroekosistem yang berubah. Dengan mengembalikan populasi burung hantu di ekosistem persawahan, ia dapat mengimbangi laju perkembangan hama tikus di sawah. Populasi tikus menurun secara bertahap sampai pada akhirnya tidak menyebabkan kerugian pada tanaman budi daya. Seperti yang telah dirasakan oleh petani di Desa Tlogoweru, Kec. Guntur, Kab. Demak dan berbagai daerah lainnya. Bagaimana, tertarik ikut memasang rubuha?
(ND)


Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Lainnya

Mentan Amran: Atas Nama 115 Juta Petani, Kami Ucapkan Terima Kasih kepada Bea dan Cukai

Mentan Amran: Atas Nama 115 Juta Petani, Kami Ucapkan Terima Kasih kepada Bea dan Cukai

Pilarpertanian – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengapresiasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan yang berhasil menggagalkan upaya importasi ilegal beras dan garam. Menurut Mentan Amran, penindakan tersebut menjadi langkah penting untuk melindungi 115 juta petani Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. “Pak Menkeu, Pak Dirjen, mewakili petani 115 juta orang saya […]

NTP Petani Tembus Rekor 129,19, Ekonomi Petani Makin Menguat

NTP Petani Tembus Rekor 129,19, Ekonomi Petani Makin Menguat

Pilarpertanian – Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19, meningkat 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada pada level 127,84. Capaian tersebut menjadi level tertinggi dan menunjukkan penguatan posisi ekonomi petani seiring harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibandingkan biaya yang harus dibayarkan. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan […]

Mentan Amran Berikan Beasiswa untuk 20 Mahasiswa Palestina, Dorong Kerja Sama Pendidikan dan Pertanian

Mentan Amran Berikan Beasiswa untuk 20 Mahasiswa Palestina, Dorong Kerja Sama Pendidikan dan Pertanian

Pilarpertanian – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyepakati pemberian beasiswa bagi hingga 20 mahasiswa Palestina sebagai bentuk dukungan konkret Indonesia terhadap generasi muda Palestina. Kesepakatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama Indonesia dan Palestina di bidang pendidikan, pertanian, serta sosial dan keagamaan. Kesepakatan itu disampaikan Mentan Amran saat menerima Utusan Khusus […]

Mentan Temui 1.000 Petani Indramayu, Selesaikan Masalah Petani Sebelum Demo

Mentan Temui 1.000 Petani Indramayu, Selesaikan Masalah Petani Sebelum Demo

Pilarpertanian – Menteri Pertanian (Mentan) Amran menemui sekitar 1.000 petani asal Indramayu yang datang ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (24/9) pagi. Pertemuan tersebut berlangsung sebelum para petani melakukan aksi demonstrasi bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional. Mentan Amran langsung menemui para petani setelah mendengar kedatangan mereka seusai salat subuh. Ia memilih berdialog […]

Dorong Ekonomi Rakyat, Mentan Amran Beberkan Skema Pembiayaan Pengembangan Bioetanol

Dorong Ekonomi Rakyat, Mentan Amran Beberkan Skema Pembiayaan Pengembangan Bioetanol

Pilarpertanian – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membeberkan skema pembiayaan pengembangan industri bioetanol nasional yang akan melibatkan BUMN, swasta, dan masyarakat. Pemerintah menyiapkan kepastian lahan dan legalitas kawasan, sementara rakyat didorong menjadi bagian dari ekosistem usaha agar manfaat ekonomi pengembangan bioetanol dapat dirasakan secara luas. Hal tersebut disampaikan Mentan Amran usai Rapat Program Khusus […]

Kementan Buka e-RDKK 2027, Validasi Data Petani Diperketat

Kementan Buka e-RDKK 2027, Validasi Data Petani Diperketat

Pilarpertanian – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai membuka pendataan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) untuk penyaluran pupuk bersubsidi Tahun Anggaran 2027 pada Selasa, 22 September 2026. Dalam proses ini, Kementan memperketat validasi data agar penerima dan kebutuhan pupuk benar-benar sesuai dengan kondisi aktual di lapangan. Pemutakhiran data mencakup identitas petani, luas dan lokasi lahan, komoditas […]

Wamenkum: Beras Fortifikasi Bermasalah Rugikan Konsumen, Korporasi Bisa Dijerat

Wamenkum: Beras Fortifikasi Bermasalah Rugikan Konsumen, Korporasi Bisa Dijerat

Pilarpertanian – Wakil Menteri Hukum (Wamenkum) Edward Omar Sharif Hiariej menyebut temuan dugaan ketidaksesuaian beras fortifikasi dengan informasi pada label kemasan memiliki indikasi dugaan tindak pidana penipuan. Hal tersebut disampaikan berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional bersama Satgas Pangan. Edward mengatakan dugaan tindak pidana tersebut sebagaimana diatur […]

Upaya Pengembangan Kopi Sumba Barat Daya Diperkuat melalui Pendaftaran Varietas Lokal

Upaya Pengembangan Kopi Sumba Barat Daya Diperkuat melalui Pendaftaran Varietas Lokal

Pilarpertanian – Upaya pengembangan potensi varietas lokal kopi di Kabupaten Sumba Barat Daya terus diperkuat melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Budidaya Kopi yang dilaksanakan di Desa Laga Lete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dalam kegiatan tersebut, Nani Suwarni, Pemeriksa PVT Ahli Madya, menyampaikan materi mengenai kebijakan dan mekanisme pendaftaran varietas lokal, khususnya […]

Kementan Percepat Tanam 50.000 Hektare, Dorong Peningkatan IP dan Antisipasi El Nino

Kementan Percepat Tanam 50.000 Hektare, Dorong Peningkatan IP dan Antisipasi El Nino

Pilarpertanian – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) kembali menggelar Gerakan Tanam Serempak pada Jumat (18/9/2026) sebagai upaya mempercepat penanaman, meningkatkan indeks pertanaman (IP), serta memperkuat produksi pangan nasional menuju swasembada pangan yang berkelanjutan. Kegiatan dipusatkan di Desa Bandar Laksamana, Kecamatan Saba Auh, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, dan dilaksanakan […]