Pilar Pertanian

Berita Pertanian Aktual

07 July 2020

Fahri Hamzah : Jangan Cemooh Penelitian Kementan

Fahri Hamzah : Jangan Cemooh Penelitian Kementan
Foto: Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah minta publik tidak mencemooh penelitian dan riset yang dilakukan oleh Kementan terhadap tanaman eucalyptus.

Pilarpertanian - Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah meminta publik untuk tidak mencemooh penelitian dan riset yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) pada tanaman eucalyptus. Menurut Fahri, Indonesia sebagai negara agraris memang memiliki kekayaan alam yang luar biasa dengan aneka ragam tumbuhan obat herbal.

“Jangan-jangan obat ini memang nanti akan ditemukan di Indonesia yang kaya raya ini. Lautnya kaya, hutannya kaya, herbalnya kaya, memang jangan-jangan ketemunya di kita. Biarkan saja jangan mencemooh,” ujar Fahri, Senin (6/7).

Fahri mencontohkan, Indonesia sejak lama memiliki tanaman anti nyamuk seperti halnya tanaman lavender. Kemudian memikiki tanaman jahe, kunyit dan temulawak yang dipercaya sebagai ramuan kesehatan. Lalu saat ini ada tanaman herbal eucalyptus yang sedang ramai diperbincangkan.

“Kan gini, di rumah saya itu ada tanaman yang ditakuti oleh nyamuk, katakanlah virus itu adalah semacam nyamuk dalam bentuk yang tidak nampak lebih kecil, mungkin dia ( virus corona) ada rasa takut dengan bau-bau tertentu, ya mungkin saja tapi jangan mencemooh biar saja dia dibuktikan,” katanya.

Disisi lain, ujar Fahri, masyarakat harus sadar bahwa Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah mengenal obat yang berasal dari akar-akran. Tapi, kata dia, kenapa ada tanaman eucalyptus yang kini sedang diteliti dan diriset Litbang Kementan malah jadi cemoohan.

“Jangan-jangan itu memang temuan lalu dicek suruh ke WHO, tapi WHO ini kan konspiratif. Suruh itu lembaga Eijkman kita, suruh itu Biofarma cek benar atau tidak. Rakyat tahu ada jamu ada empon-empon, ada akar kayu, ada segala macam. Ini keajaiban obat-obatan lokal kita ini belum kita ungkap banyak. Itu yang saya kira jadi salah satu PR kita ke depan,” katanya.

Mengenai hal ini, Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB, Wisnu Ananta Kusuma mengatakan bahwa pro kontra eucalyptus terjadi karena kemunculan produk ini datang secara tiba-tiba. Padahal, kata dia, dalam kondisi seperti sekarang ini, peranan para peneliti sangat penting untuk mencari alternatif produk herbal berpotensial.

“Sementara masyarakat yang tidak melihat proses panjang yang berliku dan telah ditempuh para peneliti itu hanya melihat tampilan luarnya saja, yang kadang-kadang dibahasakan berlebihan (overclaim),” tutupnya.(RS)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *