Kenali Aflatoksin, Senyawa Beracun Pada Produk Pertanian
Perbedaan Jagung yang bebas aflatoksin dan yang sudah tercemar.

Kenali Aflatoksin, Senyawa Beracun Pada Produk Pertanian

Pilarpertanian - Aflatoksin adalah senyawa beracun yang merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh cendawan Aspergilus spAspergillus flavus dikenal sebagai penghasil aflatoksin yang utama. Cendawan ini banyak menyerang hasil-hasil pertanian terutama kacang-kacangan dan serealia, seperti jagung, beras, gandum, dan sorgum. Mengkonsumsi hasil pertanian yang mengandung aflatoksin akan berpotensi mengganggu kesehatan manusia dan hewan.


Selain pada hasil pertanian, beberapa penelitian menemukan bahwa racun aflatoksin terkandung dalam susu sapi. Hal ini disebabkan sapi tersebut mengkonsumsi pakan yang mengandung aflatoksin. Paparan aflatoksin yang terakumulasi dalam tubuh manusia dan hewan yang dapat menyebabkan efek hepatoksik (kerusakan hati), heparkarsinogenik (kanker hati), mutagenic, teratogenik, dan bersifat imunosupresif yaitu menekan kekebalan tubuh. Aflatoksin dapat menyebabkan resiko kanker dan stunting pada anak-anak. Selain itu, ibu hamil yang terpapar aflatoksin dapat menghambat pertumbuhan janin.


Baca juga: Dukung Program Kementan PT Miwon Gandeng Pengusaha Jagung Rendah Aflatoksin Nasional


Kasus aflatoksin ini mulai dikenal pada tahun 1960, saat tejadi kematian besar-besaran pada ternak, terutama kalkun, ayam, bebek. Dari hasil pengamatan pada karkasnya membuktikan bahwa beberapa jaringan telah mengalami kerusakan, terjadi akumulasi darah dan terjadi pembengkakan liver secara bervariasi, dan warna liver juga berubah ke kuning pucat. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa substansi beracun yang mencemari pakan yang dihasilkan oleh sejenis mold yaitu Aspergillus flavus.



Berkembangnya cendawan Aspergilus flavus ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban dan media tumbuh. Jagung dan kacang-kacangan merupakan hasil pertanian yang paling banyak diserang oleh cendawan Aspergilus sp. Berdasarkan BPOM dan SNI, standar maksimum cemaran aflatoksin yang diperbolehkan pada jagung dan kacang-kacangan atau produk turunannya adalah 15 ppb untuk AFB1 dan 20 ppb untuk total aflatoksin. Untuk produk susu, maksimum cemaran adalah 0.5 ppb. Banyaknya produk-produk hasil pertanian Indonesia yang gagal ekspor dikarenakan tidak memenuhi standar cemaran aflatoksin.


Baca juga: Penuhi Permintaan Industri, Kementan Dorong Investasi Jagung Rendah Aflatoksin di Gunung Kidul


Cemaran aflatoksin pada hasil pertanian tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi kadarnya masih dapat diturunkan. Toksin yang banyak mencemari produk pertanian ini akan tetap stabil dengan berbagai proses pengolahan termasuk dengan panas. Oleh karena itu diperlukan pengendalian dan pencegahan agar tidak terjadi kontaminasi aflatoksin mulai dari proses pertanaman, panen hingga pasca panen.


Penerapan GAP (Good Agriculture Practice) dan GHP (Good Handling Practice) seperti rotasi tanaman, pengelolaan lahan, kebersihan benih, penggunaan benih yang tahan Aspergilus flavus, jarak tanam, pengendalian hama dan gulma, irigasi, dan pemupukan, pemanenan yang tepat, pengeringan yang baik, penggunaan kemasan yang bersih, penyimpanan yang baik merupakan kunci untuk meminimalkan toksin ini dalam produk pangan. Menurut penelitian, titik kritis pencemaran aflatoksin terjadi pada saat panen, pengeringan dan penyimpanan.


Pada produk jagung, penanganan panen dan pascapanen yang baik sangat menentukan kualitas biji jagung yang dihasilkan. Panen sebaiknya dilakukan sedini mungkin segera sesudah tanaman mencapai masak fisiologis. Keterlambatan panen dapat meningkatkan cemaran aflatoksin. Setelah panen, sebelum dipipil sebaiknya jagung segera dikeringkan hingga kadar air 14% untuk menghindari kontaminasi aflatoksin pada biji yang mengalami kerusakan mekanis akibat pemipilan. Selain itu, kebersihan tempat pengeringan juga perlu diperhatikan.


Petani umumnya mengeringkan jagung dengan sinar matahari, terutama yang dipanen pada musim kemarau. Pengeringan jagung dilantai jemur tanpa alas dan tidak cukup kering (kadar air diatas 15%) yang kemudian disimpan di gudang, cenderung terinfeksi A. flavus hal ini karena A. flavus merupakan spora yang banyak dijumpai di tanah dan udara sekitar lantai jemur dan gudang. Pada proses penyimpanan, biji jagung sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara sesudah dikeringkan dengan kadar air<14%.


Penyimpanan diatas 14% dapat menyebabkan berkembangnya A. flavus. Pengemasan yang kurang baik dan tidak tepat serta kondisi produk saat disimpan menyebabkan kontaminasi aflatoksin. Akumulasi kadar air, panas dan kerusakan fisik produk juga dapat memicu tumbuhnya cendawan yang menghasilkan aflatoksin. Sortasi dengan pemisahan biji yang cacat, biji yang berdensitas rendah juga dapat mengurangi kontaminasi aflatoksin.


Baca juga: Hasilkan Jagung Rendah Aflatoksin, Petani Jagung NTB Siap Penuhi Industri Pangan dan Ekspor


Pada produk kacang tanah, panen dilakukan saat 75% polong telah terbentuk (90-100 hari) dan segera dirontok kemudian polong di keringkan hingga mencapai kadar air < 10%. Pengupasan polong dilakukan dengan hati-hati dan pisahkan polong yang baik dengan polong rusak atau busuk. Pada saat penyimpanan, pastikan kadar air polong < 9% dan untuk biji kacang tanah kadar air < 7%. Kondisi penyimpanan pada suhu 25-27 oC dengan RH 56-70%.


Pengemasan Diperlukan perhatian lebih, baik dari petani dan pengumpul untuk menjaga mutu produk pertanian seperti jagung dan kacang-kacangan agar terhindar dari kontaminasi cendawan Aspergilus flavus yang dapat menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin yang dikonsumsi manusia maupun hewan akan berdampak kesehatan. dilakukan dengan menggunakan kemasan yang bersih, dapat menggunakan karung goni yang dirangkap dengan plastik PE dan disusun di rak yang berjarak dengan dinding ruang penyimpanan. Biji kacang yang disimpan perlu diperiksa secara rutin untuk mengamati pertumbuhan jamur. Bila berjamur, segera dibuang.


Petani Jagung di Nusa Tenggara Barat sudah melakukan produksi jagung rendah aflatoksin sejak tahun 2019 dan mampu menghasilkan rata-rata 20 ton jagung rendah aflatoksin yang digunakan oleh perusahaan penghasil susu sapi segar. Baca ulasan lengkapnya disini.


Sumber artikel dari Kementerian Pertanian.


Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Artikel Lainnya

Kementan Upayakan Regenerasi Petani Dengan Terus Mencetak Petani Milenial

Kementan Upayakan Regenerasi Petani Dengan Terus Mencetak Petani Milenial

Pilarpertanian – Ciawi – Kementerian Pertanian RI kembali menggelar ajang pemilihan “Young Ambassador Agriculture (YAA), Duta Brigade Pangan Inspiratif, dan Duta Polbangtan/PEPI”, Tahun 2026. Puncak acara digelar di Kompleks Surya, Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Bogor, Rabu malam (20/5/2026). Acara yang digelar Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM […]

Kementan: Bantuan Presiden Sudah Tiba, Petani Tuban Kini Dapat Panen Jagung dengan Mesin Canggih

Kementan: Bantuan Presiden Sudah Tiba, Petani Tuban Kini Dapat Panen Jagung dengan Mesin Canggih

Pilarpertanian – Kementerian Pertanian terus mempercepat modernisasi pertanian melalui penguatan mekanisasi di berbagai sentra pangan nasional. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyalurkan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa corn combine harvester kepada Gapoktan Mekar Sari, Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah yang disiapkan Presiden […]

Kementan Percepat Tanam Oplah dan CSR untuk Jaga Produksi Pangan

Kementan Percepat Tanam Oplah dan CSR untuk Jaga Produksi Pangan

Pilarpertanian – Dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan melalui pencapaian swasembada pangan nasional berkelanjutan, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melaksanakan Gerakan Tanam Serempak, Jumat (22/5/2026). Kegiatan tanam dipusatkan di Desa Bojonglegok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, serta dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia pada lokasi Optimalisasi […]

Presiden Prabowo Puji Mentan Amran: “Ini Orang Oke”, Swasembada 4 Tahun Tercapai dalam 1 Tahun

Presiden Prabowo Puji Mentan Amran: “Ini Orang Oke”, Swasembada 4 Tahun Tercapai dalam 1 Tahun

Pilarpertanian – Presiden Prabowo Subianto memberikan pujian kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman atas keberhasilannya mempercepat capaian swasembada pangan nasional dan mendorong peningkatan sektor pertanian Indonesia. Pujian tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). “Saya tidak tahu bagaimana saya bisa […]

Gerakan ASRI Perkuat Lingkungan Kerja dan Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan

Gerakan ASRI Perkuat Lingkungan Kerja dan Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan

Pilarpertanian – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggelar pencanangan Gerakan Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang dipusatkan di Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan mendukung optimalisasi pemanfaatan lahan di seluruh unit pelaksana teknis (UPT) lingkup BPPSDMP. […]

Stok Beras RI Tembus 28 Juta Ton, Wamentan Sudaryono Kebut Tanam 750 Hektar Padi di Lamongan Hadapi El Nino

Stok Beras RI Tembus 28 Juta Ton, Wamentan Sudaryono Kebut Tanam 750 Hektar Padi di Lamongan Hadapi El Nino

Pilarpertanian – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengakselerasi Gerakan Tanam (Gertam) padi seluas 750 hektar di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebagai upaya memperkuat produksi beras nasional dan menjaga momentum peningkatan luas tanam di salah satu lumbung pangan utama Indonesia. Dalam upaya percepatan tersebut, Wamentan Sudaryono bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy meninjau langsung […]

Mentan Amran Bongkar 3 Dugaan Penyelewengan: Mafia Proyek, ASN Bermasalah, hingga Permainan Benih Rp3,3 Miliar

Mentan Amran Bongkar 3 Dugaan Penyelewengan: Mafia Proyek, ASN Bermasalah, hingga Permainan Benih Rp3,3 Miliar

Pilarpertanian – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membongkar tiga dugaan kasus penyelewengan di sektor pertanian yang kini tengah didalami aparat penegak hukum. Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026), Mentan Amran menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap mafia proyek, penyalahgunaan anggaran, maupun dugaan permainan program bantuan pertanian yang merugikan rakyat dan menghambat upaya swasembada […]

Wamentan Sudaryono: Ketersediaan Hewan Kurban Nasional Surplus, Pasokan Aman

Wamentan Sudaryono: Ketersediaan Hewan Kurban Nasional Surplus, Pasokan Aman

Pilarpertanian – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut ketersediaan hewan kurban nasional tahun ini berada dalam kondisi aman bahkan surplus. Berdasarkan laporan yang disampaikan, jumlah hewan kurban secara nasional mencapai sekitar 3,2 juta ekor, sementara kebutuhan diperkirakan berada pada kisaran 2,4 juta ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 800 ribu ekor. Menurut Wamentan Sudaryono, kondisi tersebut […]

Jelang Idul Adha, Kementan Perkuat Sinergi Jaga Pasokan Bawang Merah Nasional

Jelang Idul Adha, Kementan Perkuat Sinergi Jaga Pasokan Bawang Merah Nasional

Pilarpertanian – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan dan kelancaran pasokan bawang merah menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Pemantauan di sejumlah sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, hingga Probolinggo menunjukkan produksi bawang merah nasional masih terkendali meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian […]