Lewat Mekanisasi, Kementan Upayakan Residu Tanaman Miliki Nilai Tambah

Lewat Mekanisasi, Kementan Upayakan Residu Tanaman Miliki Nilai Tambah
Petani membawa sisa tanaman padi untuk dijadikan pakan ternak. Kementan RI terus mendorong upaya menjadikan limbah pertanian memiliki nilai tambah, untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Foto:istimewa

Pilarpertanian - Jakarta — Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan residu tanaman. Sisa panen yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah diarahkan menjadi sumber daya produktif yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani melalui penerapan mekanisasi, layanan jasa alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendekatan pertanian sirkular.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” yang digelar di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, lembaga internasional, akademisi, peneliti, pelaku usaha, petani, Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), industri alsintan, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membahas pengelolaan residu tanaman yang lebih berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi Indonesia.

Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan, Indonesia memiliki potensi residu tanaman yang besar, terutama dari komoditas padi, jagung, tebu, dan berbagai komoditas lainnya. Potensi tersebut perlu dikelola agar tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali masuk ke dalam rantai produksi pertanian.

“Indonesia berkomitmen untuk mendorong pengelolaan residu tanaman yang lebih berkelanjutan. Kami memandang residu tanaman bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang dapat menghasilkan nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik,” ujar Fadjry.

Peserta berfoto bersama usai mengikuti fokus National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut Fadjry, perubahan cara pandang tersebut merupakan langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan residu tanaman yang lebih berkelanjutan. Pengelolaan residu tidak cukup hanya diarahkan agar sisa tanaman tidak dibakar atau dibuang, tetapi harus dilanjutkan dengan pemanfaatan yang memberikan manfaat bagi usaha tani.

Karena itu, pengelolaan residu tanaman perlu ditempatkan dalam kerangka pertanian sirkular. Dalam pendekatan ini, sisa dari satu proses produksi dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya untuk proses produksi lainnya sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien dan nilai ekonomi dari kegiatan pertanian dapat ditingkatkan.

“Persoalan residu tanaman tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghadirkan teknologi. Kita membutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari kebijakan, kelembagaan, pembiayaan, teknologi, model usaha, hingga perubahan perilaku di tingkat petani,” jelas Fadjry.

Salah satu komponen penting dalam membangun ekosistem tersebut adalah memastikan teknologi mekanisasi dapat diakses dan dimanfaatkan petani secara efisien. Mekanisasi dibutuhkan untuk membantu berbagai tahapan pengelolaan residu, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, pencacahan, hingga pengolahan menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali.

Namun, keterbatasan modal untuk memiliki mesin sendiri masih menjadi salah satu tantangan dalam penerapan mekanisasi di tingkat petani. Karena itu, BRMP mendorong pengembangan layanan jasa alsintan atau custom hiring sebagai salah satu alternatif.

Kepala BRMP Mekanisasi Pertanian Arief Rachman mengatakan, petani tidak harus memiliki seluruh mesin yang dibutuhkan untuk dapat memanfaatkan teknologi mekanisasi.

“Petani tidak selalu harus memiliki mesin sendiri. Melalui layanan custom hiring, petani dapat mengakses alsintan ketika dibutuhkan tanpa harus menanggung seluruh biaya investasi untuk memiliki mesin,” kata Arief.

Menurut Arief, model tersebut dapat dikembangkan melalui UPJA maupun pelaku usaha jasa alsintan di tingkat lokal. Petani cukup membayar jasa ketika membutuhkan mesin, sementara pemilik atau pengelola alsintan memperoleh pendapatan dari jasa yang diberikan.

Model tersebut diharapkan membuat pemanfaatan mesin menjadi lebih optimal sekaligus membuka peluang usaha baru di perdesaan. Dengan demikian, mekanisasi tidak hanya memberikan manfaat dari sisi efisiensi pekerjaan, tetapi juga dapat mendukung terbentuknya ekosistem layanan alsintan yang berkelanjutan.

“Yang kita dorong bukan hanya teknologinya, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan melalui model layanan yang berkelanjutan,” ujar Arief.

Penerapan konsep tersebut juga telah mulai dikembangkan melalui proyek kerja sama antara Centre for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) di bawah UN ESCAP dengan BRMP. Proyek yang berjalan sejak 2024 tersebut memiliki lokasi percontohan di Serpong, Karawang, dan Yogyakarta.

Salah satu praktik yang telah menunjukkan hasil berada di Karawang. Residu jerami yang sebelumnya berpotensi dibuang dari lahan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam budidaya jamur.

Arief mengatakan, pemanfaatan tersebut telah menghasilkan produk dan petani di Karawang sudah melakukan panen.

“Sudah berhasil, sudah bisa dipakai oleh petani-petani di Karawang untuk membuat jamur. Sudah menghasilkan, sudah panen,” ujarnya.

Praktik tersebut menjadi contoh bagaimana residu dari satu kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif lainnya. Dengan pendekatan tersebut, sisa tanaman tidak lagi berhenti sebagai persoalan pascapanen, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai usaha baru yang berpotensi memberikan nilai tambah.

Meski demikian, pengembangan model pemanfaatan residu tidak akan berhenti pada satu jenis produk. Pengalaman di tiga lokasi percontohan akan terus dikembangkan untuk melihat berbagai kemungkinan pemanfaatan sesuai karakteristik wilayah, jenis komoditas, kebutuhan petani, serta peluang pasar.

“Ke depan mungkin tidak hanya untuk jamur. Diharapkan ini bisa menjadi komoditas lain, produk lain,” kata Arief.

Dalam pengembangannya, aspek kesesuaian teknologi menjadi perhatian penting. Setiap wilayah memiliki kondisi lahan, komoditas, iklim, skala usaha tani, serta kemampuan petani yang berbeda. Karena itu, teknologi yang berhasil diterapkan di suatu wilayah tidak serta-merta dapat diterapkan dengan cara yang sama di wilayah lain.

Perwakilan UN ESCAP-CSAM Marco Silvestri mengatakan, kerja sama regional yang dibangun CSAM tidak dimaksudkan sekadar memindahkan teknologi dari satu negara ke negara lainnya.

“Tujuan kerja sama ini bukan sekadar mentransfer teknologi dari satu negara ke negara lain. Kami ingin belajar dari Indonesia, berbagi pengalaman dari kawasan, dan mengidentifikasi solusi yang relevan dengan konteks Indonesia,” ujarnya.

CSAM mempertemukan para ahli dan pemangku kepentingan dari kawasan Asia dan Pasifik untuk berbagi pengalaman mengenai mekanisasi dan pengelolaan residu pertanian. Pengalaman dari negara-negara seperti China dan India menjadi bagian dari pembelajaran, sementara dialog juga melibatkan negara-negara yang memiliki inisiatif atau lokasi percontohan, antara lain Kamboja, Nepal, Thailand, Laos, Vietnam, dan China.

Pertukaran pengalaman tersebut memungkinkan masing-masing negara mempelajari berbagai pendekatan yang telah diterapkan di tempat lain. Namun, setiap solusi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik lokal.

“Indonesia juga dapat memperoleh ide dan cara baru untuk menerapkan solusi-solusi yang inovatif,” kata Marco.

Sebaliknya, pengalaman Indonesia dalam mengembangkan pemanfaatan jerami dan residu tanaman juga dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa.

Rangkaian National Multistakeholder Dialogue juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke lokasi percontohan di Tangerang dan Karawang. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para peserta untuk melihat secara langsung penerapan teknologi dan model pengelolaan residu tanaman.

Pendekatan lapangan tersebut dinilai penting agar pembahasan mekanisasi tidak berhenti pada aspek teoritis. Kondisi nyata di tingkat petani dapat menjadi dasar untuk melihat jenis teknologi yang dibutuhkan, bagaimana mesin dapat diakses, serta model layanan seperti apa yang dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain mekanisasi, penguatan basis data menjadi bagian penting dalam menentukan teknologi dan model pengelolaan yang sesuai. Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Pertanian Presisi, Prof. Desrial, mengatakan pemanfaatan data dapat membantu pengambilan keputusan agar teknologi yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.

Menurut Desrial, pertanian ke depan harus mampu memanfaatkan sumber daya secara maksimal. Setiap bagian dari kegiatan usaha tani perlu dilihat potensinya sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah.

“Semua kita gunakan secara maksimal,” ujar Desrial.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip circular agriculture atau pertanian sirkular, yaitu membangun sistem produksi yang memungkinkan sumber daya dari satu proses dimanfaatkan kembali dalam proses lainnya.

Limbah pertanian seringkali bertumpuk, padahal lewat mekanisasi bisa dimaksimalkan agar memiliki nilai tambah yang menguntungkan petani. Foto: Istimewa

Penguatan data juga menjadi penting untuk mendukung pengembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, kualitas keputusan yang dihasilkan teknologi tetap sangat bergantung pada kualitas data yang tersedia.

Karena itu, pengalaman petani, penyuluh, peneliti, pemerintah, serta pelaku usaha perlu menjadi bagian dari pembangunan basis data pertanian. Informasi mengenai kondisi lahan, komoditas, mesin, proses produksi, hasil usaha, hingga pengelolaan residu akan semakin memperkuat dasar pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan residu tanaman tidak hanya ditentukan oleh tersedianya mesin dan teknologi. Pengetahuan petani, pendampingan penyuluh, dukungan kelembagaan, akses pembiayaan, serta keberadaan pasar juga menjadi faktor penting agar model yang dikembangkan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Karena itu, petani perlu mulai melihat jerami, sekam, batang, daun, dan bagian tanaman lainnya sebagai sumber daya yang masih memiliki manfaat. Pemanfaatannya dapat diarahkan menjadi bahan organik, pupuk, pakan, kompos, media budidaya, maupun bahan baku untuk produk lain sesuai karakteristik komoditas dan kebutuhan wilayah.

Mekanisasi kemudian berperan membuat proses pengumpulan dan pengolahan residu menjadi lebih efisien. Sementara data dan pendekatan pertanian presisi membantu menentukan pilihan teknologi yang paling sesuai.

Ketiga aspek tersebut saling terhubung dalam membangun pertanian sirkular: residu tanaman dimanfaatkan kembali, mekanisasi membantu proses pengelolaannya, sedangkan data dan teknologi presisi membantu memastikan keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan lapangan.

BRMP bersama UN ESCAP-CSAM akan terus mengembangkan pembelajaran dari proyek percontohan yang berlangsung hingga 2028. Pengalaman dari berbagai lokasi akan menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi model pemanfaatan residu yang paling sesuai sekaligus membuka peluang pengembangan produk dan layanan baru.

Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian Pertanian mendorong agar pengelolaan residu tanaman tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang harus diselesaikan setelah panen, tetapi sebagai bagian dari strategi membangun pertanian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi petani.

Dengan dukungan mekanisasi yang tepat, layanan jasa alsintan yang mudah diakses, penguatan kelembagaan, serta model usaha yang berkelanjutan, sisa panen diharapkan dapat berubah dari beban menjadi sumber daya produktif sekaligus membuka peluang ekonomi baru di perdesaan.(AgW)

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan