PETANI PROTES PEMERINTAH IMPOR TEMBAKAU

Pilar Pertanian Jumat, 09/12/2016 09:26 WIB · 528 kali dilihat
PETANI PROTES PEMERINTAH IMPOR TEMBAKAU

Pilar - Industri rokok adalah satu-satunya yang memiliki nilai tambah atau added value untuk Indonesia. Karena semua bahan baku rokok ada di sini. Tetapi aneh petani Indonesia tetap miskin karena industri rokok dikuasai asing.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji mengatakan, petani Indonesia masih sangat mampu untuk memproduksi tembakau sendiri, baik dari sisi lahan maupun sumber daya manusia. “Karena itu kalangan petani sejak lama memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu longgar terhadap impor tembakau.

Yang dibutuhkan adalah kebijakan untuk melakukan intensifikasi tembakau,” katanya di Jakarta, Kamis (1/9/2016). Dikatakan, untuk mengatasi impor yang semakin marak, pemerintah harus menaikkan cukai rokok tiga kali lipat, yakni sampai 20 persen. Dengan demikian petani tembakau dan cengkih terlindungi. “Saya mengharapkan DPR untuk mendukung perjuangan kami dan menyampaikan ke pemerintah agar petani rokok bisa menikmati kesejahteraan di negeri ini,” katanya. Industri rokok asing justru yang menikmati nilai tambah kekayaan alam Indonesia ini.

Data yang dilansir Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyebutkan, produksi rokok nasional pada 2015 tercatat sebanyak 360 miliar batang. Untuk itu, dibutuhkan pasokan tembakau di kisaran 360 ribu ton (1 batang rokok = 1 gram tembakau). Menurut data APTI, kapasitas produksi tembakau petani Indonesia tahun 2015 mencapai 225.583 ton. Artinya, memang masih ada kebutuhan sekitar 175 ribu ton, yang kemudian ditutup pemerintah dengan mengimpor tembakau dari luar negeri, antara lain dari benua Amerika dan China. Kiranya pemerintah berpihak kepada petani, rakyatnya sendiri, untuk itu petani tembakau inginkan langkah nyata dari pemerintah keberpihakannya kepada petani.

Agus Pamuji, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).