Tanam Padi di Lokasi Brigade Pangan, Wamentan Sebut Mekanisasi Menguntungkan
Pilarpertanian - Dalam kunjungan kerjanya di Desa Godong, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (3/3/2026), Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut mekanisasi merupakan salah satu transformasi pertanian yang menguntungkan.
“Transformasi dari mekani-sapi menjadi mekanisasi. Yang dulu pakai sapi dan manusia, sekarang kita menggunakan alat mesin pertanian.” katanya.
Ia menyebut mencari tenaga tanam juga tidak semudah dulu.
“Pakai alat untungnya apa sih? Agar presisi, jadi lebih tepat. Karena jarak tanam ada teorinya, supaya pertumbuhannya jadi optimal.” terangnya.
Sehingga, Ia menambahkan, masa tanam dan panen akan lebih cepat.
“Kita hemat waktu, dalam setahun bisa lebih dari 1 kali. Dalam hal produktivitas juga semakin meningkat. Seperti di sini (Desa Godong), setelah menggunakan alat mesin pertanian bisa mendapatkan tambahan 6,5 juta rupiah per hektarnya.” ucapnya.
Untuk itu, melalui Program Brigade Pangan (BP), Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penguasaan alat mesin pertanian oleh petani dan penyuluh. Hal ini untuk mencapai swasembada pangan nasional.
Dalam laporannya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti menyebut Jawa Tengah merupakan wilayah strategis untuk menyokong swasembada pangan nasional.
“Jawa Tengah merupakan peringkat ke 3 dalam capaian produksi beras nasional dengan produksi 9.304.063 ton GKG atau 5.730.417 ton beras dengan luas baku sawah 970.354 Ha sehingga memberikan dampak signifikan pada produksi nasional.” terang Ida.
Sehingga, Ia mengatakan peran Brigade Pangan harus terus dioptimalkan.
“Pada saat ini di Jawa Tengah sudah terbentuk 58 Brigade Pangan di 12 Kabupaten untuk luas lahan Oplah sebanyak 11.279 Ha.” katanya.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 akan dibentuk 99 BP di 20 Kabupaten.
Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo menyambut baik program ini.
“Kami mendukung upaya Kementan dalam Optimasi lahan (Oplah), untuk meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman (IP) lahan pertanian, dari 1 kali tanam menjadi 2-3 kali setahun.” ucapnya.
Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa ini adalah strategi Kementan yang harus didukung bersama untuk mencapai swasembada pangan dengan mengubah lahan kurang produktif menjadi lebih efisien.(PW)


