Mentan Amran: Stok Beras Tembus 4,6 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah, Aman Hingga 11 Bulan ke Depan
Pilarpertanian - Di tengah kondisi global yang semakin tidak menentu, sejumlah negara kini menghadapi tekanan serius akibat keterbatasan produksi pangan domestik. Ketergantungan pada impor, gangguan rantai pasok, serta dampak konflik dan perubahan iklim membuat banyak negara kesulitan menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakatnya. Namun di tengah situasi tersebut, Indonesia justru berada pada posisi yang relatif kuat dengan cadangan pangan yang terjaga dan produksi yang terus meningkat.
Sektor pangan kembali menunjukkan fondasi yang kokoh di tengah tekanan global dan ancaman perubahan iklim. Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan terkendali, bahkan mencatat capaian tertinggi sepanjang sejarah untuk cadangan beras nasional.
“Per tadi pagi, stok kita sudah 4,6 juta ton. Kemarin 4,5 juta ton, hari ini naik lagi. Ini adalah capaian tertinggi sepanjang sejarah. Dengan kondisi ini, stok beras nasional kita aman untuk 10 hingga 11 bulan ke depan,” tegas Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (7/4/2026).
Di sisi lain, dinamika global menunjukkan tekanan yang semakin nyata. Per April 2026, konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran telah berdampak signifikan terhadap ketahanan pangan di berbagai negara Asia. Gangguan ini terutama dipicu oleh terhambatnya pasokan pupuk serta lonjakan biaya energi akibat terganggunya jalur perdagangan vital, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Mentan Amran menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh negara untuk memperkuat fondasi pangan nasional.
“Kita tidak boleh bergantung pada pihak luar untuk kebutuhan strategis seperti pangan. Apa yang terjadi di kawasan Timur Tengah menjadi pelajaran penting bahwa kemandirian pangan adalah harga mati,” ujarnya.
Dampak dari konflik tersebut telah dirasakan luas di berbagai kawasan Asia. Di Asia Selatan, India menghadapi ancaman krisis pangan akibat terganggunya pasokan gas alam cair untuk industri pupuk urea. Pakistan mengalami penurunan produksi karena ketergantungan tinggi pada impor energi dan pupuk dari kawasan Teluk. Bangladesh juga berada dalam posisi rentan karena lebih dari separuh kebutuhan pupuknya berasal dari wilayah konflik, sementara Sri Lanka mengalami gangguan serius pada operasional sektor pertanian akibat keterbatasan energi. Bahkan Afghanistan menghadapi tekanan ganda akibat gangguan logistik serta meningkatnya kerawanan pangan.
Sementara itu di Asia Tenggara, tekanan mulai terasa melalui lonjakan biaya produksi dan kekhawatiran pasokan. Malaysia dilaporkan mulai mengalami fenomena penimbunan bahan pokok oleh masyarakat. Thailand menghadapi kenaikan harga pupuk dan bahan bakar yang signifikan, sementara Filipina mulai mencari alternatif pasokan pupuk dari negara lain, termasuk Indonesia, untuk menjaga stabilitas produksinya.
Menanggapi situasi tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa capaian Indonesia saat ini merupakan hasil dari langkah strategis yang konsisten dan terukur.
“Alhamdulillah, di tengah situasi global yang penuh tekanan, Indonesia justru mampu meningkatkan produksi dan memperkuat cadangan. Ini bukti kerja nyata seluruh pihak, mulai dari pemerintah, DPR, hingga petani,” ungkapnya.
Mentan Amran menambahkan bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan instrumen strategis yang menentukan stabilitas suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat kebijakan yang berorientasi pada kemandirian dan keberlanjutan.
Selain tekanan global, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan domestik berupa ancaman musim kemarau. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, kemarau 2026 mulai terjadi pada April dari wilayah Nusa Tenggara dan akan mencapai puncaknya pada Agustus.
Namun demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif secara menyeluruh. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, fokus diarahkan pada empat program utama, yakni swasembada pangan, makan bergizi, ketahanan energi berbasis biofuel, dan hilirisasi.
“Berkat arahan Bapak Presiden, dukungan Komisi IV DPR RI, serta kerja keras petani di seluruh Indonesia, kita berhasil meningkatkan produksi beras secara signifikan. Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Mentan Amran.
Capaian tersebut sekaligus mengantarkan Indonesia pada kondisi cadangan beras nasional yang kuat dan stabil. Tidak hanya beras, pemerintah juga memastikan ketersediaan komoditas pangan lainnya dalam kondisi cukup, seperti bawang merah, bawang putih, cabai, daging, telur ayam, dan gula pasir.
Untuk menghadapi potensi kekeringan, Kementerian Pertanian telah menginstruksikan langkah-langkah strategis kepada seluruh pemerintah daerah sejak 9 Maret 2026. Langkah tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini, optimalisasi pengelolaan air melalui irigasi dan pompanisasi, percepatan tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta pengaturan pola tanam dan penguatan koordinasi lintas sektor.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian terus memperkuat program prioritas melalui cetak sawah, optimasi lahan, pengelolaan air dan irigasi, rehabilitasi lahan, pembangunan jalan usaha tani, penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk subsidi, hingga penyuluhan dan regenerasi petani.
“Dukungan sarana produksi juga terus kami tingkatkan. Pada periode 2024–2025 telah disalurkan lebih dari 171 ribu unit alsintan, dan pada 2026 ditargetkan tambahan 37 ribu unit. Infrastruktur air juga diperkuat melalui puluhan ribu unit irigasi perpompaan dan perpipaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dalam mengantisipasi dampak krisis energi global terhadap harga pangan, pemerintah juga mendorong pengembangan biofuel berbasis komoditas pertanian seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat kemandirian nasional.
“Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berkomitmen memastikan ketahanan pangan tetap terjaga, sekaligus memperkuat ketahanan energi sebagai fondasi menuju kemandirian bangsa,” pungkas Mentan.(BB)


